Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2012

Tips Menghafal Al Qur'an

عَنْ عُثْمَانَ بنِ عَفَّان  رَضِيَ اللَّهُ تعالى عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Dari Utsman bin 'Affan Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata: bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam: “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari AlQur’an dan mengajarkannya”. (HR. Imam Bukhari)

Al-Qur’an, sumber dari segala sumber hukum umat Islam. Panduan langsung dari Allah SWT untuk kita agar selamat di dunia dan di akhirat. Allah SWT menjanjikan pahala besar bagi yang membacanya, memahaminya, dan melaksanakannya. Adalah impian setiap muslim untuk bisa menghafalkan Al-Qur’an.
Secara umum, berikut adalah beberapa tips untuk dapat menghafal Al-Qur’an dari seorang hafiz juara lomba menghafal qur’an di tingkat nasional maupun internasional, Mudhawi Ma’arif (semoga Allah merahmati beliau):
Untuk memudahkan kita dalam menghafal, ada syarat-syarat yang harus kita pegang kuat-kuat, yaitu:
  1. Beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.
  2. Berniat mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan menjadi hamba-hamba pilihan-Nya yang menjaga Al-Qur’an
  3. Istiqomah (teguh hati).
  4. Menguasai bacaan al-qur’an dengan benar, baik tajwid maupun makharij setiap huruf.
  5. Adanya seorang pembimbing dari ustad/ustadzah (al-hafidz/al-hafidzah).
  6. Minimal sudah pernah khatam Al-Qur’an 20 kali (dengan membaca setiap ayat 5 kali).
  7. Konsisten menggunakan satu jenis mushaf al-qur’an (al-qur’an pojok).
  8. Konsisten menggunakan pensil/bolpen/stabilo sebagai pembantu.
  9. Memahami ayat yang akan dihafal
Ada tiga tahap utama yang harus dilakukan seorang penghafal Al-Qur’an, yaitu:
  1. Persiapan (isti’dad)
    Kewajiban utama penghafal al-qur’an adalah harus menghafalkan setiap harinya minimal satu halaman dengan tepat dan benar dengan memilih waktu yang tepat untuk menghafal. Contohnya:
    1. Sebelum tidur malam, lakukan persiapan terlebih dahulu dengan membaca dan menghafal satu halaman secara cepat (jangan langsung dihafal secara mendalam).
    2. Setelah bangun tidur hafalkan satu halaman tersebut dengan hafalan yang mendalam dengan tenang lagi konsentrasi.
    3. Ulangi terus hafalan tersebut (satu halaman) sampai benar-benar hafal diluar kepala.
  2. Pengesahan (tashih/setor)
    Setelah melakukan persiapan secara matang dengan selalu mengingat-ingat suatu halaman tertentu, berikutnya tashihkan (setorkan) hafalan kita kepada ustad/ustadzah. Setiap kesalahan yang telah ditunjukkan oleh ustad, lakukan hal-hal berikut:
    1. Berikan tanda kesalahan dengan mencatatnya (dibawah atau diatas huruf yang lupa)
    2. Ulangi setoran sampai dianggap benar oleh ustad.
    3. Bersabarlah untuk tidak menambah materi dan hafalan baru kecuali materi dan hafalan lama benar-benar sudah dikuasai dan disahkan.
  3. Pengulangan (muroja’ah/penjagaan)
    Setelah setor, jangan meninggalkan tempat (majelis) untuk pulang sebelum hafalan yang telah disetorkan diulangi lagi beberapa kali terlebih dahulu (sesuai dengan anjuran ustad/ustadzah) sampai ustad benar-benar mengijinkan kita untuk pulang.
Memang luar biasa perjuangan seorang penghafal Al-Qur’an. Wajarlah jika Allah menjanjikan pahala besar bagi siapapun yang sanggup menghafalkan Al-Qur’an. Semoga tips di atas bisa membantu kita untuk menghafalkan kitab suci kita tercinta. Wallahu’alam bisshawab

Sumber : cara-muhammad.com dengan tambahan penulis

Senin, 13 Februari 2012

Belajarlah mencintai pasangan kita dengan apa adanya

Menyadari bahwa dirinya memang bukanlah sosok yang sempurna, sama halnya dengan diri ini yang juga memiliki kekurangan. Tapi bukankah karena kami berdua sama-sama tidak sempurna, maka dipertemukan Allah dalam ikatan suci ini untuk bisa saling melengkapi dan menyempurnakan. Allah tidak memberikan pasangan yang sempurna untuk kita karena kita sendiri adalah sosok yang tidak sempurna. Allah memberikan kepada kita seseorang yang dapat bertumbuh bersama kita, dan sosok itu buat saya adalah suami tercinta yang sudah mendampingi saya saat ini.
 
Dalam hidup ini, terkadang kita merasa dikecewakan, depressi, dan sakit hati. Sesungguhnya tak perlu menghabiskan waktu memikirkan hal- hal tersebut. Hidup ini penuh dengan keindahan, kesukacitaan dan pengharapan. Mengapa harus menghabiskan waktu memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan dan menyakitkan jika kita bisa menemukan banyak hal-hal yang indah di sekeliling kita?

Kita akan menjadi orang yang berbahagia jika kita mampu melihat dan bersyukur untuk hal-hal yang baik dan mencoba melupakan yang buruk. Cinta tak pernah memandang kekurangan orang yang kita sayangi dan kita cintai. Cinta hanya akan membawa kebahagiaan dan saling berbagi untuk memahami kekurangan masing-masing. Mencintai pasangan kita dengan apa adanya. Cinta tak pernah menyakiti, karena yang sebenarnya cinta mampu menambah kedewasaan dan cara berpikir kita untuk memandang hidup, sebagai kasih karunia Allah yang terbaik. Jangan biarkan kekurangan yang kita dapati dari pasangan kita akan mengalahkan dan menutupi semua kelebihan, kebaikan dan keutamaan pasangan kita...Bukankah tidak ada manusia yang sempurna.

Saya bersyukur bahwa Allah telah memilihkan ia untuk menjadi pendamping hidup saya. Allah telah memilihkan saya pendamping hidup yang terbaik, seseorang yang Allah tahu akan mampu menumbuhkan segala kualitas yang saya cari selama ini. Saya berasal dari tulang rusuknya, dan saya akan melihat diri saya sendiri di dalam dirinya dan kami berdua adalah satu.  

Teman, pernikahan yang kita jalani ini sesungguhnya seperti sekolah, suatu pendidikan jangka panjang. Pernikahan itu tempat dimana kita dan pasangan kita akan saling menyesuaikan diri dan tidak hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu sama lain, tetapi untuk menjadikan kita dan pasangan kita manusia yang lebih baik.

Dan akhirnya teman, terlantun doa buat kita semua, "Semoga Allah menjaga dan menjadikan keluarga kita menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah dan penuh berkah..Aamiin"


Kamis, 26 Januari 2012

Hal yang disukai istri dari suaminya



Tidakah para suami ingin tahu apa yang disukai seorang istri dari suaminya dalam kehidupan berumahtangga? Hal-hal yang akan membuat cinta dan kasih sayang istri semakin bertambah dari waktu ke waktu kepada suami yang telah menjadi imam dan pemimpin dalam pelayaran yang bernama bahtera rumahtangga. Yukkss coba kita simak satu-satu apa saja hal2 yang disukai istri dari suaminya..^_^

1. Penuh Pengertian

Sebagai seorang istri, kita pasti senang jika diperhatikan dan didengarkan oleh suami. Seorang istri senang jika suami bisa memahami dan mengerti dirinya. Dalam suka dan dukanya. Dalam ceria dan sedihnya. Sebagai istri, kita merasa senang jika suami mengetahui perasaan kita. Istri senang diberitahu pakaian yang mana yang paling disukai suami. Atau masakan yang mana yang paling lezat bagi suami. Karenanya obrolan-obrolan ringan dan lembut amat dinanti-nanti oleh seorang istri. Setiap kata yang keluar dari lidah dan bibir seorang istri adalah pesan cinta yang ingin disampaikan. Dan istri ingin tahu bagaimana suami menanggapi pesan cintanya itu.Tangisan seorang istri itu memiliki sekian banyak makna, bisa karena sedih, bisa karena marah, bisa karena terharu dan bahagia. Istri senang jika suaminya bersabar untuk mengenal setiap jenis air mata yang metetes dari mata istrinya.Pengertian ini menjadi inti dan landasan segala sikap menyenangkan yang mungkin dilakukan seorang suami terhadap istrinya.

2. Setia
Kesetiaan adalah syarat utama cinta sejati. Seorang istri ingin cinta suami itu hanya untuknya. Karenanya kecemburuan adalah bagian dari cinta. Sapaan sayang di tengah kesibukan, walaupun hanya satu dua menit kata-kata yang disampaikan lewat telepon, walaupun hanya satu dua kalimat SMS, akan menjadi pengokoh kepercayaan. Hadiah yang diberikan: martabak kesukaan, seikat bunga, atau sebuah jam tangan yang manis akan menguatkan cinta. Dan mengingat hari ulang tahun serta hari pernikahan akan menjadi bukti kesetiaan suami yang disukai seorang istri.Tapi seorang istri yang baik akan mengatakan, "Jangan karena takut kepadaku, kakanda bersikap setia. Karena Allah Maha Melihat. Itu yang mesti menjadi landasan kesetiaan.".

3. Sabar dan Pemaaf
Seorang istri pasti akan amat bersyukur jika suaminya mau menerima dirinya apa adanya. Suaminya mampu memaafkan dan bersabar atas kekurangan yang ada pada dirinya.Istri butuh waktu untuk membina dirinya. Ia bahkan butuh waktu untuk memahami dirinya sendiri, ketika satu ketika ia tidak menjadi dirinya sendiri.Seorang istri perlu mendapatkan nasihat, akan tetapi itu dilakukan dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.

Ini seperti pesan Ilahi: "Kemudian keadaan orang beriman itu adalah saling menasihati dalam kesabaran dan dalam kasih sayang." (QS. al-Balad); "Dan jika kalian memaafkan, tidak memarahi, dan mengampuni mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang." (QS. at-Taghabun)

4. Teguh Hati dan Bersemangat
Seorang istri senang melihat suaminya senantiasa berteguh hati dan bersemangat dalam menyelesaikan berbagai tugas dan amanah. Ia senang suaminya dapat senantiasa prima menunaikan tugas-tugas di luar rumah dan sekaligus membantu menyelesaikan permasalahan di rumah. Karenanya seorang istri senang melihat suaminya akrab bercengkrama, bermain dengan anak-anaknya. Dan saat suami sesekali memasak untuk keluarga, ada sentuhan hangat menyentuh relung jiwa seorang istri. Seperti pagi ini atau hari-hari sebelumnya, saat suami tercinta menyiapkan sarapan dan membantu pekerjaan rumah. Subhanalloh, rasanya luar biasa. Bersyukur Alloh telah memberikan suami sebaik dirinya, kangmas sayang.
Bagaimana jika suami berada dalam kondisi bete atau kehilangan semangat? Seorang istri akan menerima keadaan ini asalkan istri melihat suami tercinta berusaha keras untuk melepaskan diri dari keadaan lemah ini. Istri bahkan akan memberikan bantuan dan doa terbaik bagi suami.

5. Romantis
Seorang istri senang jika suaminya mampu memperlihatkan dan mengekspresikan cinta dan kasih sayang. Ia senang mendapati suaminya membangun suasana kondusif kasih sayang di rumah. Ia senang jika suaminya romantis.Diantara ungkapan cinta suami-istri adalah dalam hubungan intim. Seorang istri senang jika suaminya memberikan kesenangan dan kepuasan pada salah satu kebutuhan cinta ini. Ia akan terbuka menyampaikan apa yang ia sukai, ketika suaminya mampu membuka percakapan dalam masalah ini secara tepat dan penuh kelembutan.


6. Rapi dan Wangi
Seorang istri suka suaminya rapi. Rapi menata rambut dan rapi berpakaian, bahkan dalam suasana santai. Kerapian yang disukai adalah kerapian yang alami dan melekat dalam kehidupan suami.Sikap suami yang kooperatif dalam menjaga kerapian rumah juga disukai seorang istri. Karenanya ketika seorang suami berinisiatif menyapu ruang tengah, membersihkan kompor di dapur, atau membersihkan kamar tidur dengan membongkar tempat tidur secara rutin ... pada semuanya ada apresiasi dari seorang istri.Rapi, bersih dan wangi pada seorang suami membuat istrinya senang. Seorang suami bisa meminta istrinya memilihkan minyak wangi baginya. Ia akan terbantu menyempurnakan penampilan bagi istrinya.

7. Ceria dan Ramah
Senyum ceria dan keramahan amat dihajatkan seorang istri. Senyum dan keramahan itu laksana angin sejuk di tengah berbagai kelelahan dirinya. Berbagai kesibukan membuat jiwanya lelah. Interaksi dengan anak-anak di rumah itu bukan pekerjaan ringan. Segenap potensi kejiwaan dan pikiran mesti ia curahkan. Kelelahan fisik pun tidak ringan. Perhatikanlah, ia mesti terus memperhatikan anaknya yang terus bergerak kesana kemari, bereksplorasi ketika mulai bisa merangkak. Dan saat si anak lelah tertidur, ia mesti bersiap-siap memasak dan merapikan rumah bagi suaminya yang sebentar lagi pulang ...Senyum dan sapaan sayang suami akan menjadi hiburan jiwa bagi sang istri. Sikap humoris juga amat membantu seorang istri untuk selalu menjaga suasana riang hatinya. Ini semua akan membantunya untuk terus bersabar dan ikhlas dalam menunaikan tugas-tugasnya.

8. Menjadi Pemimpin yang Melindungi
Istri membutuhkan perlindungan yang membuatnya senantiasa merasa tentram. Karenanya ia menyukai sifat kepemimpinan pada suaminya. Kepemimpinan yang istri harapkan adalah yang senantiasa menentramkan jiwa, mengokohkan ruhani, memberikan pencerahan demi pencerahan pada akalnya dan membantu menjaga kebugaran dan kesehatan tubuhnya.

Kepemimpinan yang seorang istri sukai adalah yang memadukan ketegasan dan kelembutan. Yang menebarkan cinta, bukan membuat takut. Yang mengedepankan kemauan baik, bukan senantiasa menggunakan otoritas (misalnya dengan selalu menggunakan kalimat "suami kan pemimpin rumah tangga, jadi mesti taat donk"). Yang betul-betul menjadi pemimpin, bukan menjadi boss.:-)
 

Sumber: Kajian Muslimah

Senin, 15 Agustus 2011

Penulisan kata "Aamiin" yang benar???

aamiin.jpg

Tulisan ini saya dapatkan dari seorang teman dan saya sangat tertarik untuk membaginya dengan teman-teman yang lain. Semoga tulisan ini bermanfaat ya...^_^

Bismillahirrohmanirrohiim

Bagaimana penulisan Amin yang benar? Ada yang menulis “amin“, “amiin”, “aamin” bahkan tidak jarang juga ada yg menulis “Amien” Seperti kita ketahui Lafaz Aamiin diucapkan didalam dan diluar salat, diluar salat, aamiin diucapkan oleh orang yang mendengar doa orang lain.

Aamiin termasuk isim fiil Amr, yaitu isim yang mengandung pekerjaan. Maka para ulama jumhur mengartikannya dengan Allahummas istajib (ya Allah ijabahlah). Makna inilah yang paling kuat dibanding makna-makna lainnya seperti bahwa aamiin adalah salah satu nama dari asma Allah SWT.

Membaca aamiin adalah dengan memanjangkan a (alif) dan memanjangkan min, apabila tidak demikian akan menimbulkan arti lain.

Dalam Bahasa Arab, ada empat perbedaan kata “AMIN” yaitu :

1. ”AMIN” (alif dan mim sama-sama pendek), artinya AMAN, TENTRAM
2. “AAMIN” (alif panjang & mim pendek), artinya MEMINTA PERLINDUNGAN KEAMANAN
3. ”AMIIN” (alif pendek & mim panjang), artinya JUJUR TERPERCAYA
4. “AAMIIN” (alif & mim sama-sama panjang), artinya YA TUHAN, KABULKANLAH DOA KAMI

Jika teman-teman memahami bahasa arab, silahkan tulis kata kata itu dalam tulisan arab maka maknanya akan berbeda maka dari itu ulama yg mempelajari Alquran dan hadits hati hati karena jika salah maka maknanya akan lain dan bisa menimbulkan salah paham.

Terus Bagaimana dengan pengucapan/Penulisan “ AMIEN“ ???
Sebisa mungkin untuk yang satu ini (Amien) dihindari, karena Ucapan “Amien” yang lazim dilafadzkan oleh penyembah berhala (Paganisme) setelah do’a ini sesungguhnya berasal dari nama seorang Dewa Matahari Mesir Kuno:

Amin-Ra (Arab)atau orang Barat menyebutnya Amun-Ra)
Marilah kita biasakan menggunakan kaidah bahasa yang benar dan jangan pernah menyepelekan hal yang sebenarnya besar dianggap kecil.
Kata kata ini terlihat sederhana dan mudah ditulis, namun jika salah dalam penempatannya maka ia tak sesuai dengan yang dimaksud, misalnya Do`a.

Tulisan ini mengingatkan saya akan seseorang yang juga pernah mengingatkan saya supaya menulis kata "aamiin" dengan benar karena penulisan yang salah akan memberikan makna yang berbeda sebagaimana telah disampaikan di atas. Dengan adanya tulisan ini semakin membuat saya mengerti.
Ini sekedar informasi, mudahan mudahan bisa kita perbaiki...^_^
Sekian


Jumat, 12 Agustus 2011

Persembahan untuk para suami dimana-pun berada

 
"Sungguh harus diilmui bahwa lelaki & perempuan diciptakan berbeda dengan segala kekhasannya untuk dapat saling memahami & bersinergi"
Saya percaya jika para suami sangat mengerti dan memahami jika istrinya adalah bagian dari tulang rusuknya. Istri adalah belahan jiwa dan tawanan di tangan-nya. Dan untuk para istri, ingatlah bahwa seorang istri  sudah seharusnya mampu menjadi sumber ketenangan, cinta kasih dan ketentraman bagi suami dan keluarga karena demikanlah Allah menciptakan kita. Istri adalah pakaian bagi suami, dan yang terutama dan utama istri adalah amanah yang Allah berikan untukmu duhai para suami,…Bagaimanakah selama ini kalian para suami memperlakukan amanah itu?? …Terlalu banyak wasiat tersebar untuk para istri seakan islam adalah agama yang hanya mengutamakan para suami dan kaum lelaki. Padahal tidaklah demikian,islam membela kaum wanita, memuliakan dan mengangkat derajat mereka. Wanita adalah orang yang disucikan, ibu para ulama, ibu para panglima, dan ibu para pembesar. 
Para suami, tidakah kalian berbahagia dan bersyukur pada-Nya atas nikmat istri yang Allah karuniakan kepada kalian. Dengannya terjagalah jiwa dan tubuh kalian dari melakukan hal-hal yang diharamkan-Nya. Ketika habis masa bulan madu, tiba-tiba kini para suami tidak lagi memiliki waktu untuk bergurau dan bercengkrama dengan istri tercinta. Bila sang istri meminta,maka suami berkilah betapa lelah dan penatnya hari-hari-nya disibukkan dengan pekerjaan. Rumah hanya menjadi hotel, datang dan pergi sesuka hati. Ketika kepala menyentuh bantal maka suami mendengkur laksana tiada orang lain di sisinya.
Karena itu hendaklah suami senantiasa bertakwa kepada Allah dalam menghadapi istri dengan memberikan kasih sayang, kelembutan, kesetiaan dalam menjaganya, memberinya nafkah sesuai dengan kemampuan suami, pakaian dan janji setia.
Wahai para suami,….setiap rumah tangga tentu mempunyai problema, karena memang demikianlah sebagai ujian dan cobaan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Sebagai seorang suami dan kepala rumah tangga dituntut untuk pandai dan cermat menyiasati apa yang terjadi diantara hubungan suami istri. Kelapangan hati untuk meredam emosi akan membawa pada kebaikan dan keindahan. Kehalusan sikap akan mencairkan hati yang beku dan melunakkan gunung yang keras. Lihatlah bagaimana Rasulullah dalam menghadapi kemarahan Aisyah, beliau justru tersenyum menghadapi hal itu dengan penuh kesabaran dan keagungan.
Duhai para suami…jika kalian berharap istri-istri kalian mencintai kalian dengan sepenuh hati. Kalian meminta para istri untuk setia dan taat kepada kalian. Kalian meminta mereka agar bakti dan kasihnya tercurah padamu duhai para suami. Kalian mendambakan agar para istri merindukan kalian ketika jauh maka para suami janganlah lupa untuk menyematkan cinta kasih dihati istri-istri-nya. Ingatlah ayat ini bagi para suami yang mendambakan kebahagiaan dalam rumah tangga mereka di dunia dan akhirat. “dan pergaulilah mereka dengan cara yang patut kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak” {An-Nisaa:19}. 
Dan untuk-nya yang begitu baik, saya ucapkan Jazaakallah khairan katsiran sudah menjadi imam dan suami yang selalu berusaha memberikan kebahagiaan buat keluarga kita. Semoga Alloh senantiasa menjaga kasih sayang dan cinta diantara kita. Semoga kelak akan hadir putra-putri yang akan menambah semarak rumah kita. Semoga Alloh memberikan kemampuan kepada kita untuk kelak mendidik putra-putri kita menjadi anak-anak yang sholeh/sholehah dan bermanfaat bagi ummat..Aaamiin...^_^

Terinspirasi dari Renungan dan Kisah Inspiratif

Rabu, 03 Agustus 2011

Belajar Mengendalikan Hati agar Hidup Lebih Bahagia dan Bermakna

"Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan
(kesusahan)"
(QS ath-Thalaq [65]:7)

Pernahkan merasa kesal karena merasa diperlakukan tidak adil oleh atasan, teman atau orangtua kita?Pernahkah merasa menjadi orang yang paling menderita karena sesuatu yang kurang menyenangkan terjadi pada kita?Yah, mungkin sebagian dari kita pernah merasakan perasaan-perasaan demikian.

Namun teman, sesungguhnya tidak ada penderitaan dalam hidup ini, kecuali kita yang sendiri yang membuat diri kita menderita.Tidak ada kesulitan sebesar dan seberat apa pun di dunia ini, kecuali hasil dari buah pikiran kita sendiri. Kitalah yang menentukan mau dibawa ke mana kehidupan ini. Mau dibawa sulit, niscaya segalanya akan menjadi sulit. Mau dibawa rumit pastilah hidup ini akan senantiasa terasa rumit. Pada akhirnya semua akan tampak hasilnya dan tidak bisa tidak, hanya kita sendiri yang harus merasakan dan menanggung akibatnya.

Sekiranya kehidupan yang terasa sempit menghimpit hendak dibuat menjadi lapang, segala yang tampak rumit dan sulit hendaknya dibuat menjadi sederhana, dan segala yang kelihatannya buram, kelabu, bahkan pekat gulita dibuat menjadi bening dan terang benderang, maka cobalah rasakan dampaknya. Kita akan terkejut teman ketika menyadari bahwa ternyata dunia ini tidak lagi tampak sempit menghimpit, dan carut marut. Memandang kehidupan ini terasa seperti berdiri di puncak menara lalu menatap langit biru nan luas membentang bertaburkan bintang yang bersinar terang, dengan semburat cahaya rembulan yang lembut menebar, menjadikan segalanya tampak lebih indah, lebih lapang, dan amat mengesankan. 

 
Benar bahwa: 
"Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikit pun, tetapi manusia itulah yang berbuat zalim terhadap diri mereka sendiri" (QS Yunus [11]:44).

Padahal Dia telah tegas-tegas memberikan jaminan melalui firman-Nya,

"Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan (kesusahan)" (QS ath-Thalaq [65]:7).

Perasaan sedih, marah, kecewa, bosan,
takut, sedih, senang, benci, cinta, antusias, bosan, dan sebagainya merupakan emosi yang timbul akibat dari atau hanya sekedar respon kita terhadap berbagai peristiwa yang terjadi pada diri kita. Membahas soal emosi maka sangat erat kaitannya dengan kecerdasan emosi itu sendiri dimana merupakan kemampuan kita untuk memotivasi diri sendiri, bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati (kegembiraan, kesedihan, kemarahan, dan lain-lain) dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan mampu mengendalikan stres.

Jadi, sahabat semua, kuncinya ternyata terletak pada keterampilan kita dalam mengendalikan suasana hati (kecerdasan mengelola emosi). Bagaimana caranya? Salah satu cara yang paling efektif adalah manakala berhubungan dengan orang lain, jangan sekali-kali kita sibuk mengingat-ingat kata-katanya yang pernah terdengar menyakitkan. Jangan pula kita sibuk membayangkan raut wajahnya yang sedang marah dan sinis, yang pernah dilakukannya di hari-hari yang telah lalu.

Begitu hati dan pikiran kita mulai tergelincir ke dalam perasaan seperti itu, cepat-cepatlah kendalikan. Segera, alihkan suasana hati ini dengan cara mengenang segala kebaikan yang pernah dilakukannya terhadap kita, sekecil apa pun walaupun itu hanya sebuah senyuman. Pendek kata, ingat-ingatlah hanya hal-hal yang baik-baiknya saja, yang dulu pernah ia lakukan, seraya memupus sama sekali dari memori pikiran kita segala keburukan yang mungkin pernah ia perbuat.

Ini tidak hanya berlaku terhadap teman, tetangga, rekan kerja namun juga kepada pasangan kita. Ketika mendapati ada hal yang kurang menyenangkan dari pasangan dan itu membuat kesal, maka segeralah alihkan pikiran kita kepada segala hal baik dan menyenangkan yang pernah dilakukan pasangan kita. Kita harus ingat bahwa pasangan kita bukan sosok sempurna seperti malaikat yang tanpa cela, pun diri kita juga bukan sosok yang sempurna. Jadi, marilah kita berusaha menjadikan yang terbaik dari setiap hal yang hadir dalam hidup kita, termasuk pasangan kita.he..he..

Allah Azza wa Jalla sungguh Maha Kuasa membolak-balikkan hati hamba-hamba-Nya. Kita akan kaget sendiri ketika mendapati hasilnya. Betapa cepatnya hal ini berubah justru sesudah kita berjuang untuk mengubah segala sesuatu yang buruk menjadi tampak baik.

Teman, bertambah dewasa ternyata tidak cukup hanya dengan bertambahnya umur, ilmu, ataupun pangkat dan kedudukan. Kita bertambah dewasa justru ketika mampu mengenali hati dan mengendalikannya dengan baik. Inilah sesungguhnya kunci bagi terkuaknya ketenangan batin.

 
Suatu ketika kita sedang jatuh cinta pada seseorang yang belum halal, misalnya dan kita tidak mampu mengendalikan rasa cinta tersebut, maka sungguh ditakutkan pada akhirnya kita akan mendekati zina. Demikian juga kalau kita sedang diliputi gejolak amarah. Sekiranya tidak pernah mau mengendalikan hati, akan celakalah kita dibuatnya karena akan menjadi orang yang berlaku aniaya terhadap orang lain.

Oleh sebab itu, kita harus benar-benar memiliki waktu dan kesungguhan untuk bisa memperhatikan segala gerak-gerik dan perilaku hati ini. Jangan-jangan kita sudah tergelincir menjadi sombong tanpa kita sadari. Jangan-jangan kita sudah memusnahkan pahala amal-amal yang pernah dilakukan tanpa kita sadari. Jangan-jangan kita sudah termasuk orang yang gemar berlaku zalim terhadap orang lain tanpa kita sadari. Apabila ini terjadi, maka apalagi kekayaan yang bisa menjadi bekal kepulangan kita ke akhirat nanti? Bukankah segala amal yang kita perbuat itu-adakah ia tergolong amal salih atau amal salah-justru tergantung pada kalbu ini?

Kita pergi berjuang, berperang melawan keangkaramurkaan, berkuah peluh bersimbah darah. Tetapi, sepanjang bertempur hati menjadi riya, ingin dipuji dan disebut pahlawan;tidakkah disadari bahwa amalan seperti ini di sisi Allah kering nilainya, tidak ada harganya sama sekali?

Menjadi mubaligh, berceramah menyampaikan ajaran Islam. Didengar oleh ratusan bahkan ribuan orang. Pergi jauh ke berbagai tempat, menghabiskan sekian banyak waktu dan menguras tenaga serta pikiran. Namun, sama sekali tidak akan ada harganya di sisi Allah kalau hati tidak ikhlas. Sekadar ingin dipuji dan dihormati, sehingga merasa diri paling mulia, atau bahkan lebih fatal lagi, karena motivasi sekadar untuk mendapat imbalan.

Berangkat haji, memakan waktu berpuluh hari dan menempuh jarak beribu kilometer. Tubuh pun terpanggang matahari yang membakar dan berdesak-desakan dengan berjuta-juta manusia. Tetapi, kalau tidak disertai niat karena Allah, sekadar ingin dipuji karena mendapat embel-embel titel haji, maka na'udzubillah, semua ini sama sekali tidak berharga di sisi Allah.

Mengapa pekerjaan yang telah ditebus dengan pengorbanan sedemikian besar malah membuahkan kesia-siaan? Ternyata sebab-musababnnya berpangkal pada kelalaian dan ketidakmampuan mengendalikan suasana hati. Sebab, sekali seseorang beramal disertai riya, ujub, atau sum'ah (sekadar mencari popularitas) , maka tidak bisa tidak, pikirannya hanya akan disibukkan oleh persoalan tentang bagaimana caranya agar manusia datang memujinya. Begitu pujian itu tidak datang, sertamerta hati pun dilanda sengsara. Bila sudah begini, kapankah lagi dapat diperoleh ketentraman hidup, selain sebaliknya, hari-harinya akan senantiasa digelayuti perasaan resah, gelisah, kecewa, dan sengsara?

Oleh karena itu, sekiranya kita belum mampu melakukan amal-amal yang besar, tidakkah lebih baik memelihara amal-amal yang mungkin tampak kecil dan sepele dengan cara terus-menerus menyempurnakan dan memelihara niat agar senantiasa ikhlas dan benar? Inilah yang justru akan dapat membuahkan ketenangan batin, sehingga insya Allah akan membuahkan pula suasana kehidupan yang sejuk, lapang, indah dan mengesankan.

Mudah-mudahan dengan kesanggupan kita menyempurnakan dan memelihara keikhlasan niat di hati tatkala mengerjakan amal-amal yang kecil tersebut, suatu saat Allah Azza wa Jalla berkenan mengkaruniakan kesanggupan untuk mampu ikhlas manakala datang masanya kita harus mengerjakan amal-amal yang lebih besar.

Besar atau kecil suatu amalan yang dikerjakan dalam hidup ini, sekiranya didasari hati yang ikhlas seraya diiringi niat dan cara yang benar, niscaya akan melahirkan sikap ihsan. Yakni, kita akan selalu merasakan kehadiran Allah dalam setiap gerak-gerik, sehingga dalam setiap denyut nadi ini, kita akan selalu teringat kepada-Nya.

Inilah suatu kondisi yang akan membuat hati selalu merasakan kesejukan dan ketentraman. 

 
"Alaa bi dzikrillaahii tathma 'inul qulub" (QS ar-Ra'd[13]: 28), Demikian Allah telah memberikan jaminan. Ingat, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram!

Demi Allah tidak ada pilihan lain. Kita harus senantiasa mewaspadai hati ini. Jangan sampai diam-diam membinasakan diri justru tanpa kita sadari. Sudah pahala yang didapat sedikit, hati pun tak bisa terkendalikan, sehingga semakin rusaklah nilai amal-amal kita dari waktu ke waktu. Na'udzubillaah!

Dengan demikian, selain kita terbiasa mandi untuk membersihkan jasad lahir, kita pun harus memiliki kesibukan untuk "memandikan" hati ini. Selain kita makan untuk mengenyangkan perut, kita pun harus "menyantap" sesuatu yang dapat membuat hati ini terisi. Selain kita berdandan untuk merapikan penampilan, kita pun harus sibuk "bersolek" merapikan hati kita. Dan selain kita rajin becermin untuk memperelok wajah, kita pun jangan lupa untuk rajin-rajin pula "becermin" untuk memperelok hati.

Semua ini tiada lain agar kita memiliki kemampuan untuk senantiasa menyelisik niat maupun perilaku buruk dan busuk yang, disadari ataupun tidak, mungkin pernah kita perbuat. Itu akan lebih menolong daripada kita sibuk mengintip-intip keburukan orang lain, yang berarti hanya menipu diri sendiri belaka dan sama sekali tidak akan mendatangkan ketenangan batin. Wallahu a'lam

Teman-teman,jadi gimana nih? Yukss, kita sama-sama belajar mengendalikan hati dan emosi. Semoga tulisan ini memberikan manfaat bagi siapa saja yang membacanya.Aaamiin

Sekian
Diinspirasi dari Buku Meredam Gelisah Hati





Tetaplah Tersenyum Teman atas Apa yang tidak Menjadi Milik Kita



Sahabat sekalian, pernahkah kalian merasa kecewa atau sedih karena ternyata yang terjadi atau yang kita dapatkan tidak seperti yang kita harapkan? Merasa kecewa karena sesuatu yang luput dari genggaman atau sedih karena keinginan yang tidak tercapai. Menyesali yang terjadi dan tidak bisa menerima kenyataan yang sedang kita alami. Menganggap bahwa Tuhan begitu tidak adil pada kita, dan yang terjadi kemuadian kita justru sibuk menyalahkan dan lelah berandai-andai ria, berharap dan berkhayal “seandainya saja……” atau “jika saja.........”. Sungguh teman, bukankah yang demikian itu justru membuat hati kita semakin lelah dan nelangsa?

Ya tentu saja sebagian dari kita  pernah merasakan hal demikian. Begitupun saya, saya pernah merasa kecewa dan sedih ketika tidak bisa masuk ke sekolah yang sama dengan kakak saya, tidak bisa menjadi Bidan seperti yang Bapak inginkan atau beberapa hal lain yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang saya inginkan. Saat kejadian, saya memang sedih teman. Tidak dipungkiri jika saya merasa kecewa dengan diri saya, dengan keadaan dan hal-hal yang membuat saya tidak bisa mendapatkan apa yang saya inginkan. Namun kemudian saya menyadari dengan sepenuh hati bahwa SELALU dan PASTI bahwa pilihan Alloh itu jauh lebih baik dari apa yang bisa saya bayangkan. Rencananya SELALU dan PASTI jauh lebih sempurna dari kita yang bukanlah siapa-siapa jika dibandingkan denganNya Sang Maha Mengetahui dan Kuasa atas segala sesuatu. Ketika saya memutar kembali kenangan-kenangan yang pernah terjadi, saya kini sungguh bersyukur bahwa saya adalah saya sekarang dengan segala hal yang sudah saya dapat dan miliki, dan dengan segala kondisi saya saat ini. Inilah saya dengan kehidupan saya yang sempurna.

Teman, kita harus merasa beruntung bila pada saat-saat terguncangnya jiwa, masih ada setitik cahaya dalam kalbu untuk merenungi kebenaran. Masih ada kekuatan untuk melangkahkan kaki menuju majlis-majlis ilmu, majlis-majlis dzikir yang akan mengantarkan kita pada ketenteraman jiwa.Ada rasa syukur menerima semua nikmat dan barokah yang diberikan-Nya dan ada keikhlasan disertai kesabaran atas segala ketetapan Alloh. Selalu belajar berprasangka baik atas apa yang terjadi, karena kita percaya bahwa inilah yang terbaik yang Alloh berikan buat kita.

Hidup ini ibarat belantara. Tempat kita mengejar berbagai keinginan. Dan memang kita diciptakan mempunyai kehendak, mempunyai keinginan. Tetapi tidak setiap yang kita inginkan bisa terbukti, tidak setiap yang kita mau bisa tercapai. Dan tidak mudah menyadari bahwa apa yang bukan menjadi hak kita tak perlu kita tangisi.

Betapa banyak orang yang sukses tetapi lupa bahwa sejatinya itu semua pemberian Allah hingga membuatnya sombong dan bertindak sewenang-wenang. Begitu juga kegagalan sering tidak dihadapi dengan benar. Padahal dimensi tauhid dari kegagalan adalah tidak tercapainya apa yang memang bukan hak kita. Padahal hakekat kegagalan adalah tidak terengkuhnya apa yang memang bukan hak kita.

Apa yang memang menjadi jatah kita di dunia, entah itu rizki, jabatan atau kedudukan, pasti akan Allah sampaikan. Tetapi apa yang memang bukan milik kita, ia tidak akan kita bisa miliki. Meski ia nyaris menghampiri kita, meski kita mati-matian mengusahakannya.

"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap
apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.."
(al-Hadiid: 22-23)

Maka kita yang sedang gundah, dengarkan ini dari Allah:

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kamu. Dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kamu. Allah Maha mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui." (al-Baqarah: 216)

Maka setelah itu teman,jangan kita hanyut dalam nestapa jiwa berkepanjangan terhadap apa-apa yang luput dari kita. Setelah ini harus benar-benar dipikirkan bahwa apa-apa yang kita rasa perlu di dunia ini harus benar-benar perlu, bila ada relevansinya dengan harapan kita akan bahagia di akhirat. Karena seorang Mu'min tidak hidup untuk dunia, tetapi menjadikan dunia untuk mencari hidup yang sesungguhnya: hidup di akhirat kelak.

Inilah tulisan sederhana yang semoga memberikan manfaat bagi siapa-pun yang membacanya. Semoga kita diberikan kearifan dalam menyikapi setiap hal sulit yang kita hadapi. Yukkksss,sekarang kita renungi sudah ada berapa banyak nikmat yang telah Alloh berikan dan sudahkah kita menyukurinya? Saya percaya teman-teman adalah pribadi yang bersyukur dan ikhlas atas segala ketetapan-Nya pada diri kita masing-masing..he..he

Maaf ye teman-teman jika apa-apa yang saya sampaikan ini ada yang salah. Dengan yang tercinta bersama berproses menuju perbaikan diri..Bismillah

Sekian








Senin, 01 Agustus 2011

Yuksss, perbaiki diri dibulan suci lagi mulia….

 
Bagaimana perasaan teman-teman hari ini?Ehhmmm, saya yakin jika hari ini seluruh ummat muslim di dunia merasa senang menyambut indahnya bulan Ramadhan dan saya percaya teman-teman semua-pun merasakan hal yang sama. Semalam kita semua sholat tarawih dan hari ini kita berpuasa. Sungguh sangat terasa suasana bulan Ramadhan ketika saya sholat tarawih dimasjid yang jumlah jama’ahnya Subhanalloh, penuh memadati area disekitar masjid. Bahkan, sampai dijalan-pun digunakan untuk sholat karena jumlah jama’ah yang sangat banyak. Semoga selanjutnya tetap demikian, semoga kita diberikan keistiqomahan dalam menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya.Aaamiin

Teman, bulan ini adalah bulan yang sangat istimewa karena dibulan ini Alloh melimpahkan Rahmat-Nya dan membuka pintu ampunan seluas-luasnya kepada seluruh ummat muslim..Asyik-kan teman...^_^.. Sekarang tinggal bagaimana kita memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk bisa mendapat Ridho dan Surga-Nya kelak ketika nafas tak lagi ada. Yukss kita sama-sama memperbaiki kualitas diri dan ibadah kita. Berikan usaha dan kualitas terbaik kita saat beribadah kepada Rabb Semesta Alam yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Teman-teman, jika selama ini puasa kita hanya sekedar menahan lapar&haus, sholat tarawih-pun masih dengan rasa malas, sholat dhuha hanya dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat (itu pun sambil terkantuk-kantuk), sholat lima waktu jarang dimasjid (klau wanita memang lebih utama di rumah), memilih ayatnya-pun yang pendek-pendek saja agar lekas selesai, tanpa doa&dzikir kepada Alloh. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib dan yang paling memprihatinkan adalah kita yang mungkin sering menunda waktu sholat. Astaghfirulloh, semoga Alloh mengampuni dosa kita semua dan melindungi kita dari panas-Nya api neraka. Aaamiin

Dibulan yang penuh ampunan dan rahmat ini, marilah kita semua sama-sama memperbaiki kualitas diri dan  ibadah kita. Menjadi pribadi yang lebih baik lagi supaya kita pantas masuk kedalam surga-Nya. Saya mengerti jika hal ini tidaklah mudah, dibutuhkan usaha dan azzam yang kuat, namun teman, tidakah kita ingin seperti Rasulullah dan para sahabat yang senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah bahkan tak jarang kaki-kaki mereka bengkak karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya. Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Alloh mau mendengarkan keluh kesah mereka. Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.

Teman, jika selama ini kita hanya membaca Al-qur’an sesempatnya, itu pun tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya.Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas, maka teman bisakah mulai hari ini kita mengusahakan untuk meluangkan waktu 1-2 jam dari 24 jam yang kita miliki setiap hari untuk membaca Al-qur’an. Membuat target bukan hanya dalam karir dan kerjaan, dalam membaca Al-qur'an dan menghafalnya-pun perlu kita buat terget supaya kita menjadi lebih termotivasi.

Jika selama ini kita jarang bersedekah, begitu juga infak ataupun berbuat baik terhadap sesama maka bisakah dibulan yang mulia ini kita mulai melakukannya. Sedekah tentu saja tidak harus berupa harta atau uang jika memang kita tidak memilikinya karena sesungguhnya kita masih bisa bersedeqah dengan senyuman manis yang kita miliki. Mudah bukan? Aahh, ini selain amal juga membuat kita awet muda lho. Tapi ingat teman-teman, jangan senyum terus sepanjang jalan, nanti dikira……….Tau kan?He..he…Berbuat baik tidak sekedar tuntutan teman, tapi merupakan kenikmatan. Gak percaya....??Yukss dicoba untuk berbuat baik dan resapi apa yang kita rasakan setelahnya. Pasti senang deh..he..he

Rasulullah sebagai suri tauladan kita adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata milik Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan semata teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada musuhnya sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya. Jadi teman, berlombalah untuk berbuat baik dan tersenyum kepada semua orang..he..he

Adakah diantara teman-teman yang selama ini tidak akur dengan adik, atau tidak hormat kepada kakaknya. Terhadap orang tua tidak sopan, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, bahkan lupa mendoakan mereka, atau jangan-jangan ada teman-teman yang mungkin tidak pernah mendoakan kedua orangtuanya..Astaghfirulloh, saya percaya sahabat sekalian tidak demikian. Teman, orangtua kita  tak perlu apa pun selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah. Ingatlah teman bahwa ridha Allah bisa diraih karena adanya ridha orang tua.

Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Sudah seharusnya kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan karena ada begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu.

Teman, yukkss sama-sama kita lakukan perbaikan diri dan ibadah kita mulai detik ini, mulai sekarang sebelum kita nanti menyesal karena tanpa sadar jatah waktu dan umur kita telah habis…Jadi, Semangat…..!!!!..^_^

Maaf ya teman-teman jika ada kata-kata yang kurang berkenan, penulis juga sedang belajar untuk memperbaiki diri. Tulisan ini tidak untuk sok menasehati tapi hanya sekedar ingin berbagi karena ini juga adalah nasehat buat saya pribadi. Bersama ia yang menjadi imam buat saya dan anak-anak, semoga kami bisa memperbaiki kualitas diri dan ibadah kami.Aaamiin Ya Rabbal'allamiin..Alhamdulillah.

Sekian



Rabu, 27 Juli 2011

Betapa Indahnya Berumah Tangga


Waktu begitu cepat berlalu..Rasanya baru kemarin menjadi mahasiswa dengan segala aktivitasnya, mulai kuliah, perpustakaan, organisasi, teman-teman kuliah dan kontrakan. Ahhh, masa-masa itu telah lewat menjadi bagian dari kenangan, tersimpan di salah satu memori dalam otak saya.
Dulu sekali (kesannya sudah berapa puluh tahun yang lalu..he..he..), saat akhir2 masa kuliah, saya merencanakan kapan akan menikah dan beberapa teman-pun mulai sering membicarakan pernikahan. Membicarakan siapa yang akan duluan menikah, dengan siapa dan banyak hal lain tentang pernikahan. Bahkan teman-teman pernah mengira saya sudah menikah diam2 saat itu tapi tidak mengundang mereka..Eehhmm, ada-ada saja, saya hanya tersenyum. Sepertinya saat itu kami terkena syndrome pernikahan.^_^ Saat pembicaraan itu, semuanya masih misteri buat saya, tidak tahu dengan siapa dan kapan akan menikah. Saya hanya buat target dan perencanaan buat hidup saya, namun tentunya hasil akhir adalah wewenang yang Maha Mengetahui. Yang saya pikirkan dan inginkan pasca kuliah adalah saya ingin bekerja terlebih dahulu, baru menikah. Oleh karena itu, pasca kuliah saya memilih untuk mencari kerja dan menolak saat ada yang menawarkan untuk ta’aruf. Yah, selain ingin bekerja, saya rasa karena saya juga belum siap. Maih sangat muda..ho..ho..Yang selalu saya yakini bahwa Alloh pasti sudah mempersiapkan seseorang terbaik yang akan menjadi imam buat saya dan anak-anak. Doa saya selalu adalah semoga Alloh mempertemukan saya dengan seseorang yang baik buat saya dan keluarga dunia akherat pada saat yang terbaik pula.Aaamiin
Sekarang saya sudah menjadi istri dari seseorang yang InsyaAlloh memiliki kepribadiaan yang baik dan saya percaya ia bisa menjadi imam buat saya dan anak-anak. Subhanalloh, saya tidak pernah menyangka ternyata jodoh saya adalah ia yang begitu baik dan juga ternyata dekat karena sekantor.@_@. Ia adalah lelaki terbaik yang Alloh pilihkan buat saya. Proses yang kami lalui begitu singkat, tidak banyak yang saya tahu tentangnya namun hati ini rasanya begitu yakin ketika memutuskan untuk memilihnya menjadi imam. Saya bukan orang yang sempurna tanpa kekurangan, begitu-pun suami, namun justru karena itu bukan kami bisa saling melengkapi. Semoga…^_^
Orang kadang suka bertanya bagaimana rasanya setelah menikah?Eeehm saya hanya tersenyum, tidak bisa mengatakan atau menjelaskannya dengan bahasa kata2, namun mungkin orang bisa melihat dan bisa ikut merasakan kebahagiaan yang berbinar spontan dari wajah-wajah kami..he..he..(lebay ya..) Tangan yang saling berkaitan ketika berjalan, perpegangan saat membonceng motor, tatapan-tatapan penuh makna, bahkan sirat keengganan saat hendak berpisah. Ada teman yang bilang kepada suami, bahwa beliau setelah menikah menjadi lebih murah senyum. Aiihh, saya rasa semua karena pernikahan yang menjadikan semua terasa berbeda..ho..ho..Bukankah apa-apa yang tadinya diharamkan maka setelah menikah menjadi halal..^_^
Dalam sebuah buku dikatakan bahwa menikah adalah sunnah terbaik dari sunnah yang baik. Jadi ketika seseorang menikah, sungguh ia telah menjalankan sebuah sunnah yang di sukai Nabi. Dalam buku tersebut dikatakan bahwa Allah hanya menyebut nabi-nabi yang menikah dalam kitab-Nya. Hal ini menunjukkan betapa Allah menunjukkan keutamaan pernikahan. Dalam firmannya, "Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan rasa kasih sayang diantaramu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kalian yang berfikir." (QS. Ar-Rum: 21).
Menikah itu Subhanallah indah dan hanya bisa dirasakan oleh yang sudah menjalaninya. Ketika sudah menikah, semuanya menjadi begitu jelas, alur ibadah suami dan istri. Tidak salah jika ada yang mengibaratkan bahwa ketika seseorang baru menikah dunia menjadi terang benderang, saat itu kicauan burung terdengar begitu merdu. Sepoi angin dimaknai begitu dalam, makanan yang terhidang selalu saja disantap lezat (walau kadang bumbunya kurang pas). Mendung di langit bukan masalah besar. Itulah gambaran indah sebuah pernikahan…he..he
Namun teman, berumah tangga tentu saja juga tidak pernah terlepas dari ujian bukan. Saya menyadari jika biduk rumah tangga saya dengan suami baru saja dimulai, perjalanan masih panjang namun semoga kami bisa saling melengkapi dan memahami satu sama lain sehingga semuanya berjalan harmonis membentuk kluarga yang sakinah, mawadah, warohmah dan penuh berkah…Aaamiin..Dalam awal rumah tangga, kami tentunya banyak belajar untuk bisa saling mengenal karakter, kebiasaan dan segala hal tentang pasangan. Pengalaman yang tidak akan terlupakan.
Ada yang bilang jika seiring waktu yang berlalu cinta suami istri yang dulu begitu hangat lambat laun menguap ke angkasa membumbung atau raib ditelan dalamnya bumi, berpendar entah kemana. Seiring detik yang berloncatan, seolah cinta mereka juga ikut raib. Banyak dari pasangan yang akhirnya tidak sampai ke tujuan, tak terhitung pasangan yang terburai kehilangan pegangan, selanjutnya perahu mereka karam sebelum sempat berlabuh di tepian. Bercerai, sebuah amalan yang diperbolehkan tapi sangat dibenci Allah. Astaghfirulloh, saya berlindung dari hal demikian. Semoga Alloh menjaga keluarga kami dari hal-hal yang tidak baik.Aaamiin.
Ketika Allah menjalinkan perasaan cinta diantara suami istri, sungguh itu adalah anugerah bertubi yang harus disyukuri. Karena cinta istri kepada suami berbuah ketaatan untuk selalu menjaga kehormatan diri dan keluarga. Dan cinta suami kepada istri menetaskan keinginan melindungi dan membimbingnya sepenuh hati.
Ibn Qayyim Al-Jauziah seorang ulama besar, menyebutkan bahwa cinta mempunyai tanda-tanda. Pertama, ketika mereka saling mencintai maka sekali saja mereka tidak akan pernah saling mengkhianati, Mereka akan saling setia senantiasa, memberikan semua komitmen mereka.
Kedua, ketika seseorang mencintai, maka dia akan mengutamakan yang dicintainya, seorang istri akan mengutamakan suami dalam keluarga, dan seorang suami tentu saja akan mengutamakan istri dalam hal perlindungan dan nafkahnya. Mereka akan sama-sama saling mengutamakan, tidak ada yang merasa superior.
Ketiga, ketika mereka saling mencintai maka sedetikpun mereka tidak akan mau berpisah, lubuk hatinya selalu saling terpaut. Meskipun secara fisik berjauhan, hati mereka seolah selalu tersambung. Ada do'a istrinya agar suami selamat dalam perjalanan dan memperoleh sukses dalam pekerjaan. Ada tengadah jemari istri kepada Allahi supaya suami selalu dalam perlindunganNya, tidak tergelincir. Juga ada ingatan suami yang sedang membanting tulang meraup nafkah halal kepada istri tercinta, sedang apakah gerangan Istrinya, lebih semangatlah ia.
Teman, ketika kelak segala sesuatunya berjalan begitu rumit dalam sebuah rumah tangga yang kita jalani, saat cinta tidak lagi menggunung seiring persoalan yang datang silih berganti maka cobalah selami bulir-bulir nasehat berharga dari Nabi Muhammad ini, "Barang siapa -diantara para suami- bersabar atas perilaku buruk dari istrinya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan kepada Ayyub atas kesabarannya menanggung penderitaan. Dan barang siapa -diantara para istri- bersabar atas perilaku buruk suaminya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan kepada Asiah, istri fir'aun" (HR Nasa-iy dan Ibnu Majah ).
Patrikan firman Allah dalam ingatan kita: "...Mereka (para istri) adalah pakaian bagi kalian (para suami) dan kalian adalah pakaian bagi mereka..." (QS. Al-Baqarah:187)
Torehkan hadist ini dalam benak : "Sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istrinya dan begitu pula dengan istrinya, maka Allah memperhatikan mereka dengan penuh rahmat, manakala suaminya rengkuh telapak tangan istrinya dengan mesra, berguguranlah dosa-dosa suami istri itu dari sela jemarinya" (Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi' dari Abu Sa'id Alkhudzri r.a)
Perempuan yang paling mempesona adalah istri yang shalehah, istri yang ketika suami memandangnya pasti menyejukkan mata, ketika suaminya menuntunnya kepada kebaikan maka dengan sepenuh hati dia akan mentaatinya, jua tatkala suami pergi maka dia akan amanah menjaga harta dan kehormatannya. Istri yang tidak silau dengan gemerlap dunia melainkan istri yang selalu bergegas merengkuh setiap kemilau ridha suami.
Lelaki yang berpredikat lelaki terbaik adalah suami yang memuliakan istrinya. Suami yang selalu dan selalu mengukirkan senyuman di wajah istrinya. Suami yang menjadi qawwam istrinya. Suami yang begitu tangguh mencarikan nafkah halal untuk keluarga. Suami yang tak lelah berlemah lembut mengingatkan kesalahan istrinya. Suami yang menjadi seorang nahkoda kapal keluarga, mengarungi samudera agar selamat menuju tepian hakiki "Surga". Dia memegang teguh firman Allah, "Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. At-Tahrim: 6)
Akhirya teman, semoga semuanya tetap berjalan dengan semestinya. Semua berlaku sama seperti permulaan bahkan lebih indah. Tidak kurang, tidak juga berlebihan.Meski riak-riak gelombang mengombang-ambing perahu yang sedang dikayuh, atau karang begitu gigih berdiri menghalangi biduk untuk sampai, semoga kita semua dapat melaluinya dengan hasil yang baik. Sehingga setiap butir hari yang bergulir akan tetap indah, fajar di ufuk selalu saja tampak merekah. Kita menghiasi masa-masa yang kita lalui dengan kesyukuran, sebagai pasangan suami istri kita berbahtera dengan bekal cinta.
Semoga Allah selalu menghimpunkan kita semua (yang saling mencintai karena Allah dalam ikatan halal pernikahan) dalam kebaikan. Mudah-mudahan Allah yang maha lembut melimpahkan kepada kita bening saripati cinta, cinta yang menghangati nafas keluarga, cinta yang menyelamatkan. Semoga Allah memampukan kita membingkai keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah.
Semoga Allah mematrikan helai keikhlasan di setiap gerak dalam keluarga. Allah yang maha menetapkan, mengekalkan ikatan pernikahan tidak hanya di dunia yang serba fana tapi sampai ke sana, the real world "Akhirat". Mudah-mudahan kita semua selamat mendayung sampai ketepian. Allahumma Aamiin.
Alhamdulillahirrobbil"alamiin.
Sekian
Semoga bermanfaat ya teman2…^_^
Di inspirasi dari RENUNGAN & DAKWAH ISLAM

PENGELOLAAN ARSIP DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0     Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Revolusi Industri 4.0 merupakan fenomena yang meng...